Ini adalah kisah pendakian yang luar biasa, bersama sebuah kops bernama
Pasada Zealous. Kenapa saya katakan pendakian ini luar biasa? Karena kali ini saya berkesempatan menghantarkan diri dan adik tingkat saya menuju puncak
Gunung Merbabu.
 |
| nah ini adalah saya hehe |
4-5 Mei 2018, menjadi pembuktian atas segala persiapan dan kesiapan kami. Mulai dari persiapan fisik, mental, hingga peralatan sudah kami lakoni jauh hari. Hingga pada akhirnya datanglah hari dimana kami akan melakukan pendakian. Pada pendakian ini ada satu hal yang sangatlah berbeda dengan pendakian kami lainnya, karena kali ini kami mendaki dengan ditemani 4 orang asing alias bule. Bule tersebut adalah teman dari salah satu anggota kami yang sudah tamat SMA, "Yah, lumayanlah bisa foto bareng bule di puncak nanti, hehe." Batinku. Oke langsung saja kita mulai cerita pendakiannya. Pada hari itu, Jum'at, 4 Mei 2018 pukul 13.00 WIB kami melakukan checking terakhir atas segala persiapan, dan berangkat menuju basecamp pendakian pada 13.30 WIB menggunakan bis kapasitas 30 orang yang kami sewa khusus untuk menghantarkan kami. Di sepanjang perjalanan kami habiskan untuk sharing dan berbincang banyak hal. Tentang merbabu, tentang kesiapan mental, bahkan tentang bule yang ikut kami mendaki, hahaha. Lalu sampailah kami di
Kantor Kecamatan Selo sebelum kami dijemput mobil pickup yang sudah kami boking jauh hari untuk
menuju Basecamp Selo (ini dikarenakan bis tidak dapat dibawa sampai basecamp). Akhirnya kami semua sampai di basecamp sekitar pukul 16.30 WIB lalu kami mengisi energi dan tak lupa beribadah agar diberi kelancaran selama proses mendaki nanti. Hingga kami berangkat menuju pos retribusi pada pukul 18.30 WIB, ini adalah titik awal pendakian Gunung Merbabu via Selo. Di sini kami semua melakukan pemanasan dan kami mendapat briefing singkat dari pihak pengelola tentang gunung ini. Setelah dirasa segala hal telah siap, kami
mulai mendaki.
Pendakian dimulai dengan ritme yang
pelan dan santai(tahap awal menyesuaikan fisik dengan pendakian). Ini adalah kali ketiga saya mendaki gunung ini, karenanya saya sudah tak asing dengan treknya. Di sepanjang perjalanan kami banyak diam, karena ini adalah malam hari otomatis oksigen menipis dan kami harus benar-benar
me manage nafas kami jangan sampai terengah-engah. Pada perjalanan dari gerbang pendakian menuju pos 1 jalanan didominasi oleh hutan, lalu pos 1 menuju pos 2 mulai keluar dari hutan dan kami dapat melihat jutaan gemintang yang sangat megah, karena saat itu adalah malam yang cerah. Itu adalah salah satu dari sekian banyak hal yang selalu membuat rindu kepada gunung. Di sepanjang perjalanan dari pos 2 ke pos 3 jalanan mulai terjal, berkali-kali kami terpeleset, jatuh, kelelahan, terengah-engah. Bisa kawan bayangkan sendiri, saat itu hampir tengah malam dan fisik kami mulai melemah, berkali-kali hampir ada dari kami yang
ingin menyerah, namun kami saling menyemangati. Pada titik ini pikiran saya melayang kesana kemari, berkali-kali
otak dan hati saya
berkontradiksi saat itu. Satu pertanyaan yang terbesit waktu itu adalah,
kenapa harus capek-capek mendaki? Padahal mendaki itu melelahkan, kotor, ribet, dingin campur aduk jadi satu.
 |
| Sabana 1 Merbabu |
Bicara soal mendaki, gunung mengajarkan kita sesuatu yang kota tidak ajarkan, yang dalam hidup kita yang sekarang ini tidak kita dapatkan. Kita terlalu banyak terbuai nyamannya kota sehingga bisa dibilang kita
lupa caranya menjadi manusia. Dan di gunung kita akan ditempa untuk benar benar menjadi manusia, walau suasana dingin namun segala rasa akan menjadi hangat. Itulah yang menjadi alasan orang seperti saya ini berkali-kali kembali ke gunung walaupun sudah tahu tidak enaknya mendaki gunung.
Berlanjut, saat itu hampir tepat tengah malam dimana kami berada di pos 3 Merbabu. Di sini ada beberapa teman kami yang sakit, walaupun kami semua kelelahan namun kami tetap memegang teguh semangat yang membara dalam jantung kami kala itu, lalu kami yang masih kuat membawakan barang teman kami yang sakit serta memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mendirikan camp di Sabana 1. Saat melewati Tanjakan Heri, keteguhan hati kami benar-benar digempur. Itu adalah tanjakan yang mengalahkan orang bernama Heri(alm. Heri meninggal disana) saking berbahayanya tempat ini. Dan kami berada di sini tengah malam dengan kondisi fisik yang amat kelelahan. Tabah adalah kunci kami untuk bertahan, kami tidak ingin terkalahkan di sini, nafas demi nafas, langkah demi langkah, engah demi engah menyelimut dalam dingin yang mencekam pada kelamnya malam itu. Berkat ketabahan kami sampai di Sabana 1 dan tanpa berlama lama kami mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda untuk kami bermalam di sini, setelah itu dengan sigap kami saling bantu mendirikan tenda dan cepat-cepat tidur agar bisa istirahat cukup untuk melanjutkan perjalanan esok.
 |
| wajah lawu dari merbabu |
Esoknya, pukul 05.00 kami bangun dan lagi-lagi saya dibuat ingin bersujud saat keluar tenda. Hamparan sabana dengan siratan jingga dan embun yang membahasi pipi. Saat melihat ke timur, itulah si gagah Lawu, amat menakjubkan dan sekali lagi Merbabu membuat saya jatuh cinta. Namun kami tak bisa berlama-lama dalam kenyamanan ini, kami harus melanjutkan perjalanan untuk menggapai puncak idaman. Kami bersiap lalu mulai berjalan, tak lama kami sampai di Sabana 2, padang yang sangat luas dan hijau. Lagi-lagi kami harus bertarung dengan ego saat melewati tanjakan sebelum puncak, terpeleset sudah menjadi makanan kami, sakit bukan lagi alasan untuk mengeluh, serta nyeri adalah teman kami selama berjalan.
5 Mei 2018 pukul 09.00 kami menginjakkan kaki di puncak Merbabu, puncaknya kerendahan hati. Tak ada kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan kami. Di horizon kami berdiri, seluruh haru mengutuk sendu, langkah ini akan begitu berarti di hidup kami. Satu-persatu duka terlunaskan, satu-persatu suka terpuaskan, kami berada pada titik dimana segala bahagia terluapkan. Dan inilah kami, anak manusia yang mengejar mimpi dengan segala kerendahan hati.
 |
| puncak Merbabu |
Komentar
Posting Komentar